you're reading...
Education

Sekolah Internasional, antara harga dan mutu

Pendidikan adalah modal penting untuk menghadapi persaingan sumber daya manusia yang semakin ketat dalam era globalisasi. Belum lagi industri Indonesia yang ikut-ikutan latah pada lulusan sekolah dengan embel-embel asing.

Bahan jualan sekolah dengan sebutan internasional tentu saja kurikulum asing yang bisa membuat encer otak anak didik di atas rata-rata dan merangsang kemampuan berbahasa asing.

Tidak saja tenaga guru asing dilengkapi perlengkapan sekolah yang canggih dan kelas kecil disebut-sebut membangun anak lebih cerdas di banding sekolah biasa saja.

Hasilnya? Bisa ya bisa tidak. Buktinya sampai saat ini belum ada siswa yang sejak awal dididik di sekolah internasional lalu jadi jawara olimpiade internasional.

“Sejauh ini para jawara olimpiade internasional asal Indonesia lebih banyak adalah anak-anak biasa yang dididik di sekolah dengan kurikulum biasa-biasa saja,” ujar Yohannes Surya.

Tetapi mengapa justru sekolah-sekolah dengan label internasional atau kurikulum internasional yang berbiaya mahal itu sangat laku di mata para orang tua murid Indonesia?

“Kalau saya memang memasukan anak saya ke sekolah internasional karena menghindari shock culture. Pekerjaan saya di luar negeri membuat anak-anak kami harus sekolah di luar negeri. Mereka sudah terbiasa seolah dengan bahasa Inggis,” ujar Marketing Director Nestlé Indonesia, Maurits Klavert.

Padahal tak murah untuk sekolah di sekolah-sekolah dengan label internasional tidak hanya berkisar pada hitungan jutaan rupiah, beberapa sekolah malah meminta bayaran dengan kurs dollar.

Beberapa sekolah yang betul-betul internasional malah tidak hanya menyandarkan diri pada nilai lembaran uang yang harus disetorkan ada pula yang meminta surat rekomendasi dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) di Jakarta.

Selain itu, masih ada persyaratan administratif seperti paspor, kartu susunan keluarga (KSK) dan akta kelahiran yang sudah jelas menggambarkan latar belakang orang tua siswa.

British International School dan Jakarta International School yang memang didirikan untuk anak-anak ekspatriat yang bertugas di Indonesia.

Biaya Selangit

Sebut saja Sekolah Tiara Bangsa (STB), Depok yang sudah diakreditasi oleh International Baccalaureate Organization (IBO) untuk masuk taman kanak-kanak (TK) orangtua siswa harus merogoh US$2.750 ditambah Rp 20.500.000 per tahun.

Untuk masuk sekolah dasar (SD) US$5.550 ditambah Rp 20.500.000 per tahun. Tingkat Sekolah menengah pertama (SMP), US$5.750 ditambah Rp 20.500.000 per tahun. Untuk tingkat SMA, Rp 50 juta per tahun.

Sekolah yang tergabung dalam organisasi yang berdiri tahun 1968 itu mematok harga dan kurikulum yang tak terlalu berbeda.

Beberapa sekolah yang tergabung dalam IBO a.l Bina Tunas Bangsa School, British International School, Gandhi Memorial International School, Jakarta International School, Sekolah Global Jaya, Sekolah Pelita Harapan dan Sekolah Tunas Muda.

Sementara yang di luar Jakarta a.l Bali International School, Bandung International School, Bogor Expatriate School, Cita Hati Christian High School-Surabaya, Medan International School, dan Sekolah Ciputra-Surabaya.

Atau kalau mau alternatif lain di luar sekolah yang diakreditasi oleh International Baccalaureate Organization (IBO) bisa mencoba sekolah yang berada di bawah lisensi Highscope AS yang termasuk dalam kategori sekolah nasional plus.

Sekolah ini begrerak di pendidikan tingkat taman kanak-kanak (preschool) hingga Sekolah Menengah Pertama (junior high school).

“Disebut nasional plus karena mengaplikasikan standar kurikulum pemerintah yang diperkaya dengan sistim pengajaran dengan muatan pola belajar active learning,” tutur pendiri Highscope Indonesia, Atarina SF Amir.

Sistim pengajarannya mengacu pada hasil riset yang dilakukan oleh Education Research Foundation, AS dengan harapan bisa menstimulasi anak agar dapat berfikir analitif dan selalu berpacu mencari solusi.

Target pendidikan dengan sistim bilingual ini, lanjut Atarina, tidak saja pada pencapaian akademik tetapi juga keterampilan inter dan intra persona.

Sejak berdiri sepuluh tahun lalu, sampai saat ini Highscope Indonesia telah memiliki delapan cabang di TB Simatupang, Kelapa Gading, Pluit, Casablaca, Bintaro, Alfa Indah, Medan dan Denpasar.

Bagi orang tua yang terlanjur fanatik dengan sekolah dengan sistim Inggris maka Sevilla School bisa menjadi alternatif. Sekolah yang digagas oleh almarhum Cak Nur dan bos Garuda Food, Sudhamanek ini bekerjasama dengan Cambridge University, Inggris.

Menurut Kepala Sekolah Sevilla School, Putu Mudita, Sevilla menawarkan tingkat pendidikan dari TK hingga SMA. Biayanya tak terlalu jauh dengan yang lain antara Rp50-60 juta setahun.

Lokal standar internasional

Ada pula sekolah plus yang didirikan atas kerjasama lembaga swadaya masyarakat Turki, Pasiad (Pasifik Ulkeleri ile Sosyal ve Iktisadi Dayanisma Dernegi), dan Departemen Pendidikan Nasional.

Di Indonesia, Pasiad telah bekerjasama dengan sejumlah lembaga pendidikan di antaranya Sekolah Pribadi di Bandung dan Depok/Jakarta dan SMP-SMA Semesta di Semarang.

Seluruh sekolah itu bekerja sama dengan perguruan tinggi setempat a.l Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, Universitas Gajah Mada dan Universitas Negeri Malang.

Sekolah dengan sistem boarding school asal Turki itu membuka program beasiswa kelas olimpiade tingkat SMP dan SMU yang diperuntukkan bagi anak-anak ber-IQ 130 hingga 140.

“Maklum mereka harus mampu menyelesaikan kurikulum normal (tiga tahun) hanya dalam waktu satu setengah tahun. Sisanya adalah masa bimbingan di bawah pengawasan profesor dan doktor sains,” ujar General Manager SMP dan SMA Semesta, Abdulkerim Tursun.

Tentu tak murah untuk menyelenggarakan sistim pendidikan model begini. Untuk menyelenggarakan hal ini setiap siswa membutuhkan dana sekitar Rp20 juta untuk satu tahun.

Salah satu alasan mahalnya sekolah-sekolah berlabel internasional adalah sertifikat standar internasional atau General Certificate of Education (GRE) yang menjadi modal untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi di luar negeri.

Sementara sekolah-sekolah lokal dengan kurikulum plus pun cukup banyak seperti SMAN 3 Depok, SMA Bina Bangsa School, SMA Lazuardi Global Islamic School, Depok, SMAN 70, SMAN 68, SMAN 78 dan kelas super SMAN 3 Jakarta.

Nama terakhir ini adalah proyek yang didukung PT BMW Indonesia sejak September 2004. Pabrikan mobil Jerman ini akan menanggung seluruh biaya yang dibutuhkan oleh siswa kelas super tersebut.

Setidaknya untuk anak-anak pintar yang diasuh oleh tim pendidik Tim Olimpiade Fisika Indonesia, PT BMW harus menanggung biaya pendidikan untuk setahunya senilai Rp20 juta.

Tentu saja tidak mudah masuk ke kelas super SMAN 3 itu mensyaratkan lolos seleksi IQ, EQ hingga wawancara seputar kepribadian siswa. Muatan pendidikan di kelas ini tentu berbeda dengan sekolah penganut kurikulum biasa.

Dalam kelas super itu ditekankan pelajaran seperti Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia yang setara dengan kurikulum universitas.

Hanya saja meski telah disekolahkan ke sekolah mahal bukan berarti anak kemudian dijamin sukses di masyarakat atau menjadi penemu jempolan. Seperti kata Thomas Alva Edison ,”Bakat adalah 1% sementara yang 99% adalah kerja keras!”.

Discussion

One thought on “Sekolah Internasional, antara harga dan mutu

  1. Fanomenal, fantastis, bombastis…., bagi yang mampu sih fine-fine aja. Uang sakunya juga barangkali lebih dari itu.

    Posted by adhiwirawan | 17/07/2009, 5:48 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori

Visitor

  • 39,944 hits

Save Our World

%d bloggers like this: