UI Peringkat 201 Universitas Dunia

JAKARTA – Peringkat perguruan tinggi negeri (PTN) Indonesia terus menanjak. Universitas Indonesia berhasil masuk jajaran 201 besar kampus terbaik di dunia.

Dalam laporan terbaru lembaga pemeringkat perguruan tinggi Times Higher Education-QS World University Ranking (THE-QS World), Universitas Indonesia (UI) mengalahkan beberapa universitas terkenal di Filipina, Malaysia, dan Vietnam. Peringkat ini naik dari urutan 287 pada 2008 dan urutan 395 pada 2007.

THE-QS World melakukan pemeringkatan 500 universitas terbaik di dunia dari 5.000 perguruan tinggi yang disurvei di seluruh dunia. Adapun indikator peringkat tersebut adalah unjuk kerja riset dan publikasi, unjuk kerja pengajaran, internasionalisasi, unjuk kerja keterserapan lulusan di dunia kerja, dan tata kelola.

Rektor UI Gumilar Rusliwa Soemantri mengatakan, peringkat tersebut diraih UI atas prestasi mahasiswa dan di bidang riset. UI, kata dia, sampai Oktober 2009 telah menjuarai 17 kejuaraan tingkat dunia mulai dari paduan suara, kontes debat sampai olimpiade matematika tingkat dunia.

“Publikasi UI pada tahun ini hampir mencapai 10.000 buku publikasi,” katanya seusai meresmikan perluasan Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) di Gedung Depdiknas Jakarta kemarin. Gumilar menambahkan, hal lain yang membuat peringkat UI mencuat adalah internasionalisasi dan tata kelola menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Dia menyebutkan, selain menempati peringkat 201 dunia, UI juga menempati urutan 102 di bidang ilmu sosial dan urutan 104 di bidang seni dan humaniora. UI juga menempati peringkat 34 Asia, naik dari Peringkat 50 pada 2008, sedangkan di tingkat ASEAN UI menempati ranking lima.

Peringkat pertama sampai dengan lima universitas di ASEAN berturut- turut adalah National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University Singapore, Chulalongkorn University Thailand, University of Malaya Malaysia, dan Universitas Indonesia.

Kepala Humas dan protokol UI, Visnu Juwono menambahkan, prestasi ini tidak lepas dari kerja keras bangsa Indonesia, baik pemerintah, pelaku industri maupun seluruh warga civitas academica UI. Pencapaian dalam peringkat universitas dunia ini sejalan dengan mahasiswa UI meraih prestasi gemilang di berbagai momen kompetisi internasional.

Sementara dalam bidang riset dan pengajaran, UI terus-menerus melakukan pembenahan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas selama satu tahun terakhir. “Jumlah peneliti di UI sendiri meningkat menjadi 1.005 peneliti pada 2009 dari 937 peneliti di tahun 2008,” imbuhnya. Sebelumnya,Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Depdiknas Fasli Jalal mengatakan, perguruan tinggi Indonesia punya potensi besar menuju ke kelas dunia.

Hanya saja, lanjut dia, masih butuh pemerataan mutu dan penataan yang baik. “Saat ini pun kami sedang mendata perguruan tinggi yang berpotensi dikembangkan menjadi world class (kelas dunia). Dari sekitar 2.800 PT di Indonesia, sudah ada sekitar 10 PT yang perlu dipacu,” katanya.

Untuk itu pemerintah, kata dia, telah menyediakan dana sekitar Rp20-30 miliar bagi PT yang berpotensi berkelas dunia. Adapun bagi PTN yangsudahmasuk400besardunia, pemerintah juga memberi dana pengembangan yang lebih besar. “Pastinya lebih besar dari itu (Rp20-30 miliar),tergantung pada kebutuhan universitas.

“Yang jelas pemerintah menyediakan dana khusus dan perguruan tinggi bisa mengajukan proposal dana yang mereka butuhkan,” jelas Fasli. Dalam pemeringkatan ini, universitas di Inggris dan Amerika Serikat (AS) masih mendominasi 17 universitas terbaik dunia. Harvard University ,AS, di urutan pertama. University of Cambridge, Inggris, di urutan kedua.Yale University peringkat ketiga.

University College London berhasil menyabet peringkat, di atas University of Oxford yang harus rela di urutan 5, sama dengan Imperial College London. Direktur Manajer QS Nunzio Quacquarelli, mengatakan, pemerintah dan universitas di penjuru dunia ramai-ramai berinvestasi untuk meningkatkan citra dan pengakuan di pentas internasional. Sebab, pendidikan tinggi telah menjadi industri global.

Menurut Quacquarelli, saat ini peringkat universitas digunakan para pengusaha mengidentifikasi calon tenaga kerja, pengajar, atau membentuk kemitraan. Peringkat ini juga menjadi acuan orangtua dan pelajar untuk mencari lembaga pendidikan bermutu. (//mbs)

Bentrokan Idelogi Besar : Liberalisme Demokrasi dan Fundamentalis Agama.

Kamis, 30 Juli 2009 | 19:54 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Wisnu Dewabrata

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono mengingatkan, terorisme muncul akibat benturan global antara dua ideologi besar saat ini, liberalisme demokrasi dan fundamentalisme agama. Alih-alih memunculkan proses dialektika, keduanya malah justru berupaya saling memerangi dan menghancurkan.

Sementara pelaku teror (teroris), menurut Hendropriyono, sangat mudah ditandai sebagai orang yang memiliki kepribadian yang terbelah (split personality) dan juga kegalatan kategori (category mistake) sehingga menganggap apa yang dilakukan sebagai kebenaran.

Pernyataan itu disampaikan Hendropriyono dalam sebuah perbincangan dan wawancara dengan Kompas, Kamis (30/7), saat ditemui di salah satu hotel di bilangan Jakarta Pusat.

Dia menambahkan, bentuk kepribadian yang terbelah bisa mudah dikenali. Bahasa yang digunakan dalam terorisme terbelah dalam dua tata permainan bahasa, mengancam dan mendoakan. Dalam konteks ini, terorisme jadi tidak membedakan antara mantan Presiden Amerika Serikat George W Bush dan pemimpin Al Qaeda Osama Bin Laden. “Keduanya menurut saya sama-sama teroris,” ujar Hendropriyono.

Bagaimana tidak, dalam menjalankan aksi terornya, Al Qaeda juga melancarkan ancaman untuk membunuh orang-orang yang menurut mereka pantas dibunuh dan di sisi lain mereka mengklaim dan mendoakan perbuatan tersebut sebagai direstui Tuhan.

Hal senada juga dilakukan George W Bush, yang tidak hanya mengutuk tetapi juga memerangi orang atau kelompok yang mereka anggap sebagai teroris, dengan menggunakan serangan bersenjata, seperti di Afganistan dan Pakistan, negara-negara yang dicurigai menjadi basis Al Qaeda.

Dalam melancarkan aksi serangan bersenjatanya pun, pihak AS, dalam pernyataan Bush, mendoakan serta meyakini apa yang dilakukan direstui oleh Tuhan. Dalam konteks itu lah, menurut Hendropriyono, antara Bush dan Laden, sama-sama teroris.

Setelah komunisme jatuh, seluruh dunia sekarang gandrung akan demokrasi. Sayangnya, proses demokrasi oleh negara besar seperti AS dilakukan dengan tidak etis dengan melupakan komitmen damai. Dalam konteks itulah muncul kemudian fundamentalisme agama, yang digunakan untuk kepentingan politik, ujar Hendropriyono.

Lebih lanjut dalam kesempatan itu, Hendropriyono mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak terjebak dalam perbenturan kedua ideologi tadi. Baik liberalisme demokrasi maupun fundamentalisme agama diyakini tidak akan pernah menemui titik temu.

Agar Indonesia tidak ikut terjebak dalam peperangan kedua ideologi tadi, Hendropriyono mengingatkan satu-satunya cara adalah dengan memperkuat kembali dan merevitalisasi ideologi serta filosofi pemersatu bangsa, Pancasila. Dengan begitu Pancasila bisa menjadi filter terhadap nilai dan filosofi yang tidak sesuai dengan kultur serta identitas bangsa Indonesia.

Seperti pada masa perang dingin di mana terdapat koeksistensi ideologi masing-masing bangsa, termasuk kita dengan ideologi sendiri, sehingga semua bangsa bisa hidup dengan damai. Tidak ada terorisme, ujar Hendropriyono.

Namun, tambah Hendropriyono, jika bangsa Indonesia malah memilih salah satu dari dua ideologi besar yang sekarang tengah berbenturan, maka Indonesia hanya akan menjadi bagian dari peperangan di antara keduanya.

Lebih lanjut sebagai tindak kejahatan yang tidak tunduk pada aturan apa pun karena nilai kebenaran diyakini berada di dalam diri para teroris, paham terorisme menurut Hendropriyono harus diberantas.

Namun, diakui hal itu tidak mudah mengingat terorisme dalam penggambaran Hendropriyono, seperti monster imajiner mitologi Yunani, Hydra, atau mitologi pewayangan, Candabirawa, yang sama-sama berbentuk makhluk ganas yang akan selalu muncul dan tumbuh menjadi banyak setiap kali dibunuh.

Walau begitu, Hendropriyono mengaku terorisme tetap bisa diberantas, salah satunya dengan menghapuskan habitat tempat para teroris bisa diterima dan terlindungi. Untuk konteks Indonesia, habitat paling mendukung adalah lingkungan masyarakat penganut aliran keras wahabisme, yang telah menginfiltrasi sebagian pikiran umat Islam di Indonesia.